Wong Jawa Ilang Jawane? Menatap Miris Pudarnya Bahasa Kromo Inggil di Pemalang

Ilustrasi tulisan aksara jawa dan anak muda berbincang dengan orang tua

Coba bayangkan skenario sederhana ini:

Seorang anak muda di Pemalang ingin meminta uang jajan atau berpamitan kepada kakek-neneknya. Alih-alih mengucapkan, "Kulo nyuwun arto..." atau "Kulo badhe kesah...", mereka justru lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia formal, atau yang lebih parah, menghantamnya dengan bahasa Jawa Ngoko yang terkesan kurang sopan jika diucapkan kepada orang tua.

Kejadian di atas bukan lagi sekadar rekaan, melainkan kenyataan sehari-hari yang jamak kita temui saat ini.

Ada sebuah fenomena kultural yang sedang bergeser secara perlahan namun mematikan: Bahasa Jawa Kromo Inggil (Jawa Alus) kini sedang sekarat di tanahnya sendiri.

Mengapa bahasa yang penuh dengan nilai kesopanan dan estetika ini makin asing di telinga generasi muda Pemalang? Apakah istilah kuno "Wong Jawa Ilang Jawane" sudah benar-benar menjadi nyata? Mari kita bedah lewat sudut pandang opini yang jujur ini.

Dilema Pemalang: Antara Dialek Lokal yang "Banter" dan Kromo yang Alus

Membahas bahasa di Pemalang itu unik. Secara sosiolinguistik, kita di Pemalang memiliki dialek khas (Dialek Pemalangan) yang karakternya cenderung blak-blakan, tegas, dan agak banter (mirip rumpun Banyumasan/Pesisiran).

Bagi anak muda Pemalang, berbicara bahasa Jawa Ngoko khas Pemalangan itu rasanya alami dan menunjukkan keakraban yang luar biasa. Namun, begitu dihadapkan pada kewajiban menggunakan Kromo Inggil untuk menghormati orang yang lebih tua, mendadak lidah mereka menjadi kaku.

Ada semacam ketakutan kolektif di kalangan anak muda: "Takut salah ucap" (wedi luput).

Karena struktur tingkat tutur dalam bahasa Jawa cukup rumit (ada Ngoko Lugu, Ngoko Alus, Kromo Lugu, hingga Kromo Inggil), banyak remaja memilih "jalan aman" dengan beralih total ke bahasa Indonesia saat berbicara dengan sesepuh. Jalur aman ini, tanpa disadari, adalah awal dari kepunahan sebuah identitas.

Kenapa Kromo Inggil Bisa Pelan-Pelan Lenyap?

Jika kita telusuri lebih dalam, pudarnya bahasa tingkat tinggi ini disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan:

  • Hilangnya pembiasaan di Lingkungan Keluarga: Rumah adalah sekolah bahasa pertama. Sayangnya, banyak orang tua zaman sekarang yang tidak lagi membiasakan anaknya berkomunikasi dengan bahasa Kromo. Bahasa Indonesia kini dianggap lebih praktis dan modern.
  • Gempuran Budaya Digital: Di era media sosial, konten-konten komedi atau hiburan berbahasa Jawa mayoritas menggunakan bahasa Ngoko agar terasa santai. Hampir tidak ada konten viral di TikTok atau Instagram yang menggunakan Kromo Inggil. Akibatnya, bahasa alus ini dianggap sebagai bahasa "kuno" yang hanya ada di buku pelajaran sekolah.
  • Pergeseran Makna "Modern": Ada anggapan keliru di sebagian kalangan bahwa menguasai bahasa daerah secara mendalam itu tidak keren atau terkesan udik.

Membuka Mata: Sebelum Semuanya Terlambat

Kita tidak bisa menyalahkan zaman, tapi kita bisa memilih untuk merawat apa yang tersisa. Komunitas lokal, sekolah-sekolah di Pemalang lewat muatan lokal, hingga kita para blogger, punya tanggung jawab moral yang sama.

Menggunakan bahasa Indonesia atau menguasai bahasa Inggris itu wajib untuk masa depan, tetapi menjaga bahasa Kromo Inggil adalah cara kita menjaga akar sejarah. Jangan sampai suatu saat nanti, anak cucu kita di Pemalang harus belajar bahasa Kromo dari peneliti asing karena di tempat asalnya sendiri sudah tidak ada yang bisa mengucapkannya.

Sebab, identitas sebuah bangsa atau daerah tercermin dari bahasanya. Jika bahasanya runtuh, maka runtuh pula fondasi budayanya.

Kalau di lingkungan rumah Sampean sendiri bagaimana, Lur? Apakah anak-anak atau remaja di sekitar Sampean masih lancar diajak berbicara Kromo Inggil, atau justru sudah beralih total ke bahasa lain? Yuk, bagikan opini dan keresahan Sampean di kolom komentar!

Posting Komentar untuk "Wong Jawa Ilang Jawane? Menatap Miris Pudarnya Bahasa Kromo Inggil di Pemalang"