Nostalgia SMP Negeri 3 Pemalang: Dari Era SLTP Hingga Terbentur Zonasi

Gedung SMP Negeri 3 Pemalang masa lalu

Ada satu tempat di Pemalang yang kalau saya lewati, tiba-tiba memori di kepala langsung berputar kencang. SMP Negeri 3 Pemalang. Mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah bangunan sekolah biasa, tapi bagi kita yang pernah berseragam di sana, itu adalah "rumah" tempat masa remaja dibentuk.

Era SLTP: Nama yang Menandai Zaman

Sampean pasti ingat, dulu kita mengenalnya dengan sebutan SLTP. Transisi nama dari SLTP ke SMP Negeri 3 Pemalang mungkin terlihat sepele di mata orang luar, tapi bagi kita itu adalah penanda zaman. Di era SLTP itu, kehidupan sekolah terasa begitu simpel. Tidak ada beban media sosial, tidak ada istilah "konten". Yang ada hanyalah papan tulis kapur, kenakalan-kenakalan kecil di jam istirahat, dan suara bel sekolah yang paling ditunggu-tunggu.

Menjadi siswa di sekolah itu dulu adalah kebanggaan tersendiri. Ada rasa guyub yang kuat, sebuah ikatan yang entah kenapa sekarang terasa semakin langka.

Zonasi: Batasan yang Memisahkan Persahabatan

Bicara soal sekolah saat ini, saya tidak bisa menahan diri untuk sedikit "mengomel" soal sistem zonasi. Sebagai alumni yang dulu punya teman dari ujung kecamatan sampai pusat kota, zonasi ini terasa membatasi.

Dulu, persahabatan kita tidak mengenal jarak. Rumah teman saya mungkin jauh, tapi itu bukan halangan. Sepulang sekolah, kita bisa mampir ke rumah siapa saja. Sekarang? Sistem zonasi seolah-olah mengkotak-kotakkan pergaulan. Anak-anak hanya berteman dengan orang yang "dekat rumah". Padahal, sekolah seharusnya menjadi tempat di mana kita mengenal dunia, bukan sekadar mengenal tetangga sebelah.

Ini adalah bentuk opini saya yang mungkin dirasakan juga oleh banyak alumni lainnya. Kehilangan kebebasan memilih lingkungan pergaulan adalah "harga" yang harus dibayar mahal oleh siswa zaman sekarang.

Kebanggaan yang Tetap Ada

Terlepas dari perubahan zaman dan sistem yang ada, rasa bangga terhadap SMP Negeri 3 Pemalang tidak akan pernah luntur. Sekolah ini telah mencetak banyak orang hebat yang kini tersebar di berbagai profesi. Setiap kali saya melihat logo sekolah atau mendengar namanya disebut, ada rasa haru dan hormat yang muncul.

SMP Negeri 3 Pemalang telah memberikan kita fondasi karakter. Ia mengajarkan kita untuk berkompetisi, tapi juga tetap merangkul dalam pertemanan.

Kesimpulan

Menulis artikel ini bukan hanya untuk mengenang gedung sekolahnya, tapi untuk mengenang "kita" yang dulu. Kita yang penuh semangat, polos, dan punya mimpi besar di balik seragam putih biru itu.

Bagaimana dengan Sampean? Apa kenangan paling ikonik atau guru yang paling tak terlupakan di SMP Negeri 3 Pemalang? Dan apakah Sampean setuju kalau sistem zonasi saat ini membuat suasana sekolah jadi terasa "kurang luas"? Mari berbagi cerita di kolom komentar!

Posting Komentar untuk "Nostalgia SMP Negeri 3 Pemalang: Dari Era SLTP Hingga Terbentur Zonasi"