Pernahkah Sampean merasa jadi agen rahasia yang melintasi "perbatasan internasional" hanya dengan modal kendaraan roda dua? Kalau Sampean tinggal di wilayah perbatasan Pemalang dan Tegal, rasa-rasanya itu bukan hal yang asing lagi. Cuma modal nyebrang Sungai Rambut, Sampean sudah ganti status administratif.
Sungguh, ini adalah definisi border paling santai di muka bumi. Tidak ada tembok besar, tidak ada pemeriksaan paspor, apalagi tukar mata uang. Cuma air sungai yang mengalir tenang, eh tiba-tiba KTP Sampean sudah "pindah" wilayah.
Definisi "Teleportasi" Lokal
Kalau dipikir-pikir, Sungai Rambut itu ibarat gerbang teleportasi paling murah meriah. Sampean yang tadinya sedang menikmati vibe Pemalang, begitu ban motor menyentuh aspal di seberang jembatan, tiba-tiba sudah disambut suasana Tegal.
Lucunya, kalau ada orang asing yang lewat sini, mungkin dia bingung: "Lho, tadi saya beli bensin di Pemalang, kok sekarang di Tegal?". Padahal, bagi kita, itu cuma "nyebrang kali". Kadang, ikan di sungai itu sendiri mungkin juga bingung, "Ini saya lagi berenang di wilayah hukum mana, ya?"
Kenapa Harus "Drama" Perbatasan?
Kenapa perbatasannya harus sungai? Mungkin supaya kita sadar bahwa alam tidak mengenal garis administratif. Sungai Rambut tetap mengalir meski Pemalang dan Tegal sibuk memikirkan pembangunan masing-masing.
Tapi, jujur saja, sensasi "nyebrang kali sudah ganti kabupaten" ini adalah hiburan tersendiri. Sampean bisa sarapan Nasi Grombyang di Pemalang, lalu makan siang kupat blengong di Tegal hanya dengan jarak tempuh "selemparan batu". Benar-benar efisiensi mobilitas yang luar biasa!
Pesan Moral (Yang Tidak Penting-Penting Amat)
Jadi, buat Sampean yang sering melintasi perbatasan ini, jangan lupa tetap patuhi aturan lalu lintas, ya. Meskipun "cuma" nyebrang sungai, bukan berarti Sampean bisa akrobat di atas jembatan.
Dan buat warga perbatasan, tetaplah rukun. Mau Pemalang atau Tegal, kita semua tetap satu jalur: Jalur Pantura. Kalau Sampean lapar di tengah-tengah perbatasan? Ya tinggal pilih, mau mampir ke warung sebelah kiri (Pemalang) atau sebelah kanan (Tegal). Yang penting tetap kenyang, bukan?
Bagaimana menurut Sampean? Pernah punya cerita lucu atau kejadian unik saat nyebrang Sungai Rambut? Ceritakan di kolom komentar, ya!
Posting Komentar untuk "Cuma Modal Nyebrang Sungai! Kok Bisa Perbatasan Pemalang & Tegal Cuma Selemparan Batu?"
Monggo, tulis komentar Sampean: